Dr. Masaru Emoto, “The Hidden Messages in Water”, (Pesan rahasia Sang Air). Buku Lama, tapi Baru ku baca Minjam pula. Bukunya punya HTPS, tanggal 5 Appril 2008 dia ke Pameran Buku di Sport Hall Gor Palembang. Sempat janjian ketemuan disana. Bedanya dia sampai di tempat tujuan, sedangkan aku nyasar ke A&W, maklum lapar, sebenarnya penasaran juga sih ama menu yang ada disitu, beberapa kali lewat didepannya hanya liat gambarnya aja, akhirnya berhasil juga aku mencicipinya (dasar tukang makan), tapi aku jadi kapok mau kesana lagi at least sampai kondisi keuangan membaik lagi (Gw bangkrut nih!). Lain kali klo kesana lagi aku ingin ada teman, soalnya kemaren tuh orang-orang pada liatin aku, mungkin mereka heran ”kok orang ini makan sendiri ya?”
Kembali ke buku.
Dr. Emoto, Lahir di Yokohama, bulan Juli 1943. Waktu itu kira-kira negara kita belum Merdeka, dan sepertinya Dr. Ini beruntung tidak terkena bom atom Amerika. Seandainya saja beliau mati, mungkin penelitian ini tidak pernah ada. Dalam penelitiannya ini beliau mengungkapkan bahwa air itu ternyata dapat menyimpan memori, membaca dan mendengarkan (?). Memang terdengar aneh dan agak gila. Tapi inilah yang terjadi. Beliau melakukannya percobaan seperti memberikan perlakuan pada sejumlah media air dengan cara memberikan suara musik, bahkan dengan menempelkan tulisan pada dinding kaca disekeliling air tersebut. Hasilnya… tak disangka-sangka, ternyata air memberikan respon berupa bentuk-bentuk kristal-kristal setelah air tersebut dibekukan.
Kristalnya berbeda-beda bentuknya lho. Tergantung dari perlakuan apa yang diberikan. Dr. Emoto membungkus secarik kertas bertulisan kata-kata cinta dan syukur ke sekeliling botol berisi air. Hasilnya terbentuklah kristal-kristal yang sangat sempurna. Ini menandakan bahwa cinta dan syukur adalah mendasar bagi semua fenomena kehidupan di alam. Kemudian percobaan dilanjutkan dengan memberikan tulisan ”terimakasih” dalam berbagai bahasa seperti Jepang, Korea, Italia, Jerman, Fracis, Inggris dan Cina. Semuanya menghasilkan kristal yang indah dan sempurna. Lain halnya bila air tersebut di beri tulisan berupa ejekan seperti ”kamu bodoh!”, tidak ada kristal yang terbentuk. Bahkan terbentuk gambar pria bersenjata ketika diberi kata-kata ”kau membuatku muak”. Kata-kata yang berupa ajakan memiliki bentuk kristal yang lebih baik dibandingkan dengan kata-kata berupa paksaan.
Rata-rata 70% tubuh manusia terdiri atas air. Kita memulai hidup sebagai janin yang 99% adalah air. Ketika kita lahir, kita adalah 90% air, dan pada saat kita mencapai usia dewasa, kita adalah 70% air. Jika kita amati pada usia lanjut, kemungkinan kita adalah 50% air. Dengan kata lain, disepanjang hidup kita terutama eksis sebagai air.
Air. Air yang ada dalam tubuh kita. Tentunya juga memiliki respon yang sama dengan air yang diuji oleh Dr. Emoto. Pada percobaan berikutnya Dr. Emoto meminta bantuan kepada anak kecil di sebuah sekolah dasar di Jepang. Anak itu berkata ”kamu manis” pada sampel air, dari sampel itu terbentuklah sebuah kristal yang manis, ketika Anak itu berkata ”kamu indah” terbentuklah kristal kristal yang kecil kecil, ketika anak itu lebih sering mengatakan ”kamu indah” sampai berulang ulang, terbentuklah sebuah kristal yang lebih besar. Jadi dari perkataan saja bisa memberikan pengaruh pada air. Hal ini bisa dikaitkan dengan pengaruh psikologis yang diterima oleh orang yang bila diperlakukan sejumlah kata-kata, kata-kata yang baik bisa membuat seseorang bersemangat, seperti sorakan supporter yang mendukung pemain sepak bola idolanya, ataupun perkataan dari seseorang yang disayangi. Begitu pula dengan kata-kata yang buruk yang diterima oleh seseorang, seperti caci maki, hinaan dan amarah yang kelewatan tak jarang membuat seseorang menjadi depresi, menderita gangguan psikologis, menjadi pemurung, tidak percaya diri dan trauma yang tak hilang-hilang. Dari hal ini ada baiknya bila kita memikirkan sejumlah kata yang akan kita ucapkan ketika mengambil tindakan berupa teguran pada seseorang.
Pada air yang tak dihiraukan adalah kristal yang paling tidak utuh, mungkin inilah gambaran perasaan yang ditunjukkan oleh air bila seseorang di kucilkan, atau di cuekkin. Seperti bangunan yang tak selesai, kubus yang tak terbentuk. Tak ada arah dari sudut-sudutnya. Dan seakan mengatakan ”untuk apa aku berdiri”.
Jika anak tadi mengucapkan kata-kata yang baik pada air terbentuk kristal yang Indah, bagaimana jika air tadi dibacain mantra-mantra oleh mbah dukun yang sedang praktek menyembuhkan pasiennya? Apalagi klo pake ditambah pake air ludah. Cuih.. (huek…menjijikkan). Tak lama berkhayal sambil meneruskan membaca pertanyaan itu pun terjawab. Tapi gak pake mbah dukun. Dr. Emoto mengambil sampel air dari danau yang telah didoakan. Seorang pendeta mengulang sebuah doa dengan menghadap ke danau. Kristal pertama dari sampel air sebelum didoakan tampak kristal seperti wajah terdistorsi, tetapi kristal yang terbentuk dari air yang didoakan tampak kristal bercahaya seperti cahaya yang bersinar dari galaksi.
Hmm.. Klo mbah dukun mungkin akan menggambar kristal bebentuk keris empu gandring.
Dalam buku ini juga dikatakan bahwa air itu berasal dari luar angkasa. Tanda tanya besar nih. Teorinya belum saya pahami, lagi pula belum baca jurnal-jurnalnya. Ada hal yang membingungkan pada buku ini, di awal penulisnya bercerita tentang konsep ”Tuhan”, seperti halnya percobaan dengan menggunakan berbagai bahasa, yang sama maknanya, respon yang didapat, kristal yang baik. Tapi untuk hal keagamaan Dr. Emoto menggunakan pendeta dan tulisa nama dewi amaterasu (dewi Matahari Shinto). Menghasilkan kristal yang baik bahkan sangat luar biasa, bahkan sama halnya Kristal yang di bentuk oleh sampel air yang diberi perlakuan dengan memutar lagu Injili. Dan begitu juga dengan lagu Doa Buddhisme Tibet. Sedikit membingungkan pada konsep keTuhanan. Apakah semua agama sebenarnya menyembah tuhan yang sama. Ataukah hanya kebetulan semua itu memiliki efek getaran gelombang yang baik bagi air. Misteri yang masih belum terjawab karena air hanya bisa mengatakan dalam bentuk kristal yang belum kita pahami artinya.
Terakhir dalam penutupnya DR. Emoto mengajak kita untuk mengisi hidup dengan sepenuh-penuhnya. ”Bukanlah hal yang sangat indah jika kita bisa menutupi bumi dengan kristal kristal yang indah. Bagaimana? Dengan Cinta dan Syukur. Pesan yang dibawa oleh air yang datang jauh dari luar angkasa.”