Sejuta cerita. Sejuta kata ingin keluar dari mulutku. Dalam malam mati lampu. Lagu Ipang-Ada yang hilang, mengorek telinga, dan tak sadar akupun ikut bernyanyi. Tak ada yang tau, tak seorangpun yang ada disitu tau isi hatiku. Mereka pasti mengira aku bernyanyi hanya iseng, hanya nyanyi-nyanyi. Tapi lagu itulah yang menggambarkan isi hatiku sebenarnya saat itu. Di balik Permainan uno, di ablik serangan 20 kartu, di balik canda tawa dan gurauan yang ada, semua itu tersembunyi dengan rapi.
Malam Jum’at, mati lampu, teman-temanku di sampingku. Kami semua tidur di lantai berkasur menatap langit-langit rumah. Tapi tak tampak ujungnya. Mati lampu. Diantara mereka aku merasa tenang, walaupun hatiku gelisah tak henti-hentinya. Dan aku merasa sangat damai sekali.
Katanya, muka itu cermin hati.
Tapi untungnya muka gak merefleksikan yang sebenarnya. Dan yang muncul Hanya Jerawat. Plup!.. Satu lagi muncul. Bertambahlah beban hatiku. Biasanya ku simpan sendiri. Ato ku tulis sepuas hatiku, terus di bakar. “Minum air abunya, biar masalahnya cepat selesai”. itu sih kata mbah dukun. Tapi pasti muncul masalah baru, “keracunan abu cinta”. Aku gak mau punya masalah ama yang namanya abu, apalagi Abuamat HAK, Msc.IE. , soalnya beliau itu ketua jurusanku. ntar aku gak lulus-lulus.