Ada kalanya seseorang memiliki pasangan hidup berparas menarik, tapi omongannya pedas dan menyakitkan. Yang lain barangkali rupawan, ucapan enak didengar tapi sangat boros. Ada pula yang pandai mengatur keuangan, namun kurang rajin beribadah.
“Manusia itu seperti unta. Diantara 100 ekor unta, sangat sulit kamu menemukan seekor yang sangat baik tunggangannya” (HR. Bukhari Muslim)
Seorang istri hampir tidak mungkin mendapatkan suami yang gagah perkasa, mulia, dermawan, berilmu luas, banyak sedekah, pandai mengendalikan amarah, mudah memaafkan orang lain, dan romantis. Seorang suami hampir tidak mungkin memiliki seorang istri yang cantik, pandai menyenangkan suami, cekatan, pintar mengelola keuangan, rajin beribadah, serta sejuta sifat baik lainnya.
Nasihat Rasulullah SAW berkenaan kekurangan yang ada pada pasangan kita, “Hendaknya seorang mukmin tidak meninggalkan seorang mukminah. Kalau dia membenci suatu perangai pada istrinya, dia pasti menyenangi perangai yang lain.”
Pesan Rasululluah SAW senapas dengan dengan firman-Nya, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Annisa [4]: 9).
Tentu saja bukan berarti kita membiarkan begitu saja beberapa aib atau kekurangan pasangan kita. Harus ada usaha berupa perkataan (nasihat lisan) maupun perbuatan untuk memperbaiki kekurangan pasangan. Namun tentu saja, usaha perbaikan tersebut harus dengan keikhlasan serta cara yang sebaik mungkin kita mampu.
Hendaknya kita melihat tindakan memberi nasihat merupakan penunaian kewajiban menyampaikan ilmu ataupun kebaikan yang orang lain saat itu belum memilikinya. Tentu saja dengan tetap menyadari orang yang kita nasihati memiliki beberapa kelebihan yang tidak kita miliki.
Selain ikhlas menasehati, penting pula ikhlas dalam menerima nasihat. Ketika kita dinasihati, hendaknya kita kendalikan serta lunakkan hati kita untuk ikhlas menerimanya.
Adakalanya suatu nasihat kebenaran akan mendapatkan penolakan ketika cara penyampaiannya salah. Hendaknya kita pandai memilih metode dan waktu yang lebih tepat untuk menasehati pasangan kita.
KENAPA PESAN INI DI BERIKAN KEPADAKU? AKUKAN BELUM PUNYA ISTRI.
April 1, 2008 oleh asmaradianputra
suatu saat kan bakal punya istri mas…